Pendidikan Profesi Guru Segera Diubah

Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Jalal mengatakan, pihaknya akan melakukan perubahan terhadap pendidikan profesi guru yang sudah dilakukan selama ini. Menurutnya, selama ini pendidikan profesi guru selama satu tahun dinilai belum cukup untuk bekal mengikuti perkembangan yang terjadi. Bahkan, termasuk pendidikan 4 tahun untuk mendapatkan gelar sarjana pendidikan.

Mantan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemdiknas ini mengungkapkan, design pendidikan profesi guru selama ini menggunakan siklus 4 tahun sarjana dan 1 tahun pendidikan profesi. Dikatakan, keduanya tersebut harus dilihat secara menyeluruh. Jika pendidikan profesi satu tahun diperbaiki, lanjut dia, maka pendidikan 4 tahun juga harus mendapatkan perbaikan serupa. “Itu yang harus kita kejar terus. Apalagi kalau sudah dibayar mahal untuk itu,” ujar Fasli usai membuka seminar Re-Design Pendidikan Profesional Guru di Jakarta, Sabtu (18/12/2010).
Fasli menambahkan, guru adalah tiang pembangunan. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan terhadap guru pada 2008, masih ada 1 orang guru dari 7 orang yang tidak berada di kelas untuk mengajar. Masalah-masalah seperti ini yang harus diperbaiki. “Kita memiliki data per kabupaten dan kota, data per studi, data per jenjang pendidikan berapa guru yang dibutuhkan. Saat ini saya sering dikritik orang dari Bappenas dan Kementerian Keuangan, dengan menaikan anggaran, apa kontribusi pendidikan untuk kita?,” imbuhnya.

Di samping itu, Fasli juga mengatakan, meskipun banyak jumlah guru yang telah lulus portofolio, namun hal tersebut tidak akan mengubah sikapnya. Di dalam kelas, lanjut Fasli, khusus bagi guru matematika terlalu banyak membahas masalah yang tidak ada hubungannya dengan mata pelajaran. Bahkan, jumlahnya sangat tinggi hingga mencapai 11 persen. “Di negara lain seperti Jepang hanya 1-2 persen saja,” tegasnya.

Guru-guru yang tidak lulus fortofolio, katanya, dimasukan dalan program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Semuanya harus mengikuti pendidikan selama 90 jam. Padahal, kekurangan guru tidak semuanya sama. “Harus ada pembagian kelompok. Tidak perlu semuanya 90 jam. Terlalu menghabiskan waktu dan dana. Mungkin cukup 50 jam saja. Atau cukup 20 jam saja. Kita tetap tes potensi akhir dan personalnya,” harap Fasli. (cha/jpnn)

Manusia dan Cita-cita

Manusia yang tak mampu memiliki cita-cita adalah manusia yang lemah. Memimpikan saja tidak sanggup. Berfikir tentang bagaimana kondisi ia di masa dating ia bahkan tak mampu. Tak tahu kemana arah ia meuju, apa target yang harus dicapai. Tak ada pilihan lain untuk menjadi pribadi yang sukses kecuali berani. Keberanian bermimpi dan merealisasikan impiannya. Untuk kemudian, oleh ummat ia menjadi tumpuan. Oleh oranglain ia menjadi pengharapan.

Disinilah letak pentingnya sebuah mimpi atau cita-cita. Ia member arahan, kemanamuara yang dituju. Ia memberikan kendali, agarberjalan tepat pada lintasan seharusnya. Ia member tujuan, gambaran yang ia kehendaki.

Pada ruang dan waktu yang tersedia untuknya, memberi kesempatan untuk dilakoni dengan sebaik mungkin perilaku. Untuk sebuah karya dengan hasil perjuangan diri sendiri.

Pendidikan Tak Sekedar Di Atas Kertas

 

Alangkah  bijaknya jika pendidikan yang dilakukan benar-benar memerhatikan aspek penguasaan daripada kuantitas proses belajar. Pemahaman daripada  banyaknya hafalan di kepala. Terlebih lagi, kemampuan pengamalan atas interaksi ilmu yang didapat pada sekolah.

Akan tetapi kalau kita lihat bagaimana kondisi siswa-siswa sekrang ini, kebanyakan mereka hanya melakukan suatu proses pendidikan, tanpa mampu memosisikan diri sebagai produk pendidikan. Perilaku mereka belumlah mencerminkan bahwa mereka adalah golongan terdidik. Mereka mungkin mampu menghafal beberapa bab dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, tetapi pada prakteknya, mereka belumlah mampu mengamalkan pelajaran tersebut dalam kesehariannya. Hal ini terbukti dengan maraknya tawuran, geng-geng, dan indisiplin siswa misalnya dalam mematuhi peraturan lalu lintas.