Trilogi Sukses

Trilogi Sukses

Siapa sih yang nggak ingin sukses? Dalam dunia ini toh yang kita cari juga kesuksesan kan? Mulai dari sukses membangun keluarga, bisnis, hingga sukses dunia akhirat.

Nah, ada 3 hal yang bisa mengantarkan kita kepada kesuksesan.

Satu, Semangat Masa Lalu

Tak mengapa kita mengingat masa lalu. Tapi ingat yang baik-baik saja. Mengambil semangat masa lalu. Dengan cara mengingat-ingat prestasi yang telah kita raih di masa lalu. Baik prestasi besar maupun prestasi kecil. Sebab sekecil apapun prestasi tetap merupakan prestasi.

Ingat-ingat prestasi kita di masa lalu. Misalnya pernah menjuarai lomba. Pernah jadi ketua di organisasi tertentu. Mungkin pernah jadi ketua kelas atau ketua kelompok. Itu pun prestasi.

Menjadi juara ibarat rezeki. Kadang rezeki kita bukan di satu tempat tapi di tempat lain. Kadang kita nggak jadi juara di tingkat provinsi atau nasional tapi bisa jadi juara di tingkat internasional.

Saat kita kalah dalam kompetisi, kadang ada yang mengejek. Jangan melawan ejekan itu dengan kata-kata. Jadikan ejekan itu sebagai motivasi agar menjadi prestasi.

Dua, Semangat Masa Sekarang

Ciptakan semangat di masa sekarang. Caranya adalah membuat indikator sendiri tentang kesuksesan. Jangan salah, bahkan kesuksesan itu tidak harus hal-hal yang besar, lho. Perubahan apa saja, bisa kita maknai sebagai kesuksesan.

Misalkan pada pekan sebelumnya sudah mendapatkan 5 mitra, dan pekan sekarang mendapatkan 10 mitra, itu termasuk kesuksesan.

Ketika malam ini bisa tahajud itu termasuk kesuksesan. Jika hari ini bisa sedekah itu termasuk kesuksesan. Kalau hari ini bisa shalat dhuha dengan jumlah rakaatnya lebih banyak daripada sebelumnya itu juga kesuksesan.

Saat sedekah lebih banyak daripada sedekah sebelumnya itu juga kesuksesan.

Ukuran kesuksesan itu tergantung kita memaknainya. Perubahan apapun yang kita maknai sebagai kesuksesan itu dapat menjadi motivasi diri agar mendapatkan prestasi yang lebih baik lagi. Supaya semangat menjadi lebih menyala.

Tiga, Semangat Masa Depan

Pasanglah target target di masa depan. Jadikan target itu sebagai pelecut semangat untuk meraihnya.

Misalkan saat ini kita sudah mendapatkan 20 mitra. Maka pasang paket mendapatkan 40 mitra, 100 mitra, bahkan ribuan mitra.

Jika saat ini kita sudah tilawah 1 juz per hari, targetkan menjadi 2 juz perhari.

Jika saat ini kita sudah bisa bersedekah Rp 20.000 per hari, targetkan menjadi Rp100.000 per hari, atau lebih.

Jika tahun ini kita bisa mendapatkan 5 prestasi, targetkan mendapatkan 10 prestasi di tahun ini.

Tentu dipengaruhi dengan apa yang kita lakukan saat ini. Sebab kita di masa depan adalah cerminan kita di masa sekarang.

Jadikan tahun baru sebagai semangat baru mencapai prestasi lebih baik lagi. Ajak lebih banyak teman, saudara, atau kenalan untuk bergabung di BP dan PPQ. Niatnya adalah ‘jebloskan’ dia menjadi keluarga yang semakin kaya semakin taqwa.

Siapa sih yang nggak mau menjadi semakin kaya semakin taqwa. Targetkan pula penjualan dan amalan semakin bagus. Semoga Allah membantu kita mencapai target-target kita. Aamiin.

Manusia dan Cita-cita

Manusia yang tak mampu memiliki cita-cita adalah manusia yang lemah. Memimpikan saja tidak sanggup. Berfikir tentang bagaimana kondisi ia di masa dating ia bahkan tak mampu. Tak tahu kemana arah ia meuju, apa target yang harus dicapai. Tak ada pilihan lain untuk menjadi pribadi yang sukses kecuali berani. Keberanian bermimpi dan merealisasikan impiannya. Untuk kemudian, oleh ummat ia menjadi tumpuan. Oleh oranglain ia menjadi pengharapan.

Disinilah letak pentingnya sebuah mimpi atau cita-cita. Ia member arahan, kemanamuara yang dituju. Ia memberikan kendali, agarberjalan tepat pada lintasan seharusnya. Ia member tujuan, gambaran yang ia kehendaki.

Pada ruang dan waktu yang tersedia untuknya, memberi kesempatan untuk dilakoni dengan sebaik mungkin perilaku. Untuk sebuah karya dengan hasil perjuangan diri sendiri.