Sering Bepergian? Ini Dia Beberapa Persiapan di Musim Hujan

Sering Bepergian? Ini Dia Beberapa Persiapan di Musim Hujan

Sore itu saya mau keluar rumah. Pakai motor. Sebelum menghidupkan mesin, saya  lihat cuacanya cerah. Karena memang habis hujan. Saya pikir enggak bakal hujan lagi kayaknya. Dengan percaya diri saya berangkat.

Malam itu saya ke sekolah untuk mengambil beberapa berkas. Sesampai di sekolah saya masih lama untuk mencari berkas. Sedang asyik cari berkas eh ternyata hujan turun dengan tiba-tiba.

Padahal tadi cuacanya cerah. Memang hujan tidak deras sih. Tapi justru hujan seperti itu  biasanya lama. Dan apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi.

Hujan enggak cuma lama tapi benar-benar lama. Saya yang datang di sekolah jam 8 malam harus menunggu sampai jam 10 malam. Belum juga reda hujannya.

Bahkan sampai  jam 11 malam. Karena kelamaan nunggu, saya ketiduran. Saya  nggak berani menerobos hujan karena malam itu sedikit sakit kepala.

Malam itu saya ketiduran untuk nunggu hujan reda. Pas saya bangun ternyata  pukul 2 pagi.

Lalu saya mikir. Kenapa tadi nggak bawa jas hujan ya.

Sebenarnya ada jas hujan, tapi males bawa.  Saya pikir karena habis hujan mungkin nggak akan hujan lagi. Hujannya udah habis.

Saya nyesal. Coba seandainya tadi bawa jas hujan. Walaupun kondisi hujan bisa menerobos. Mana anak istri nunggu di rumah.

hujan sekarang memang seperti ekstrem.  sebentar cerah tiba-tiba hujan. Cuaca sering tak menentu.  bahkan sering hujannya itu cuma sebentar sebentar.

Pernah pada suatu perjalanan saya kehujanan 10 hingga 15 kali. Seperti 100 m hujan berhenti, hujan lagi.   200 m hujan berhenti, hujan lagi dan seterusnya.

Sekarang ini musim hujan. Kita harus waspada dan sadar dengan kondisi seperti ini kalau tak mau hal yang merepotkan menimpa kita.

Ada baiknya kita selalu waspada. sedia payung sebelum hujan. Sedia jas sebelum berangkat kerja.

Kalau punya mobil memang lebih enak. Hujan tidak kehujanan, panas tidak kepanasan. Yang repot  kalau pakai kendaraan bermotor.

Nah ada baiknya kita harus selalu siap jas hujan. Usahakan selalu diletakkan di dalam jok atau diselipkan di jepitan sepeda motor.

Jangan malas seperti saya. apapun kondisinya selalu siapkan jas hujan. Jangan merasa cuaca akan baik-baik saja. Apapun kondisinya siapkan saja.

Selain itu siapkan juga obat-obatan seperti fresh care, minuman herbal, dan sejenisnya. Siapkan selalu di tas yang nanti bisa sebagai persiapan. Mengantisipasi berbagai kondisi yang mungkin saja terjadi.

Suatu hari saya melakukan perjalanan di hari. Dari rumah masih terlihat cerah. Satu jam kemudian terlihat mendung. Tak lama kemudian hujan turun. Tapi saya sudah siap karena sudah ada jas hujan di jok motor. Jadi, meskipun hujan saya bisa tetap melajukan motor dengan kecepatan yang tak kencang.

Pendidikan Profesi Guru Segera Diubah

Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Jalal mengatakan, pihaknya akan melakukan perubahan terhadap pendidikan profesi guru yang sudah dilakukan selama ini. Menurutnya, selama ini pendidikan profesi guru selama satu tahun dinilai belum cukup untuk bekal mengikuti perkembangan yang terjadi. Bahkan, termasuk pendidikan 4 tahun untuk mendapatkan gelar sarjana pendidikan.

Mantan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemdiknas ini mengungkapkan, design pendidikan profesi guru selama ini menggunakan siklus 4 tahun sarjana dan 1 tahun pendidikan profesi. Dikatakan, keduanya tersebut harus dilihat secara menyeluruh. Jika pendidikan profesi satu tahun diperbaiki, lanjut dia, maka pendidikan 4 tahun juga harus mendapatkan perbaikan serupa. “Itu yang harus kita kejar terus. Apalagi kalau sudah dibayar mahal untuk itu,” ujar Fasli usai membuka seminar Re-Design Pendidikan Profesional Guru di Jakarta, Sabtu (18/12/2010).
Fasli menambahkan, guru adalah tiang pembangunan. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan terhadap guru pada 2008, masih ada 1 orang guru dari 7 orang yang tidak berada di kelas untuk mengajar. Masalah-masalah seperti ini yang harus diperbaiki. “Kita memiliki data per kabupaten dan kota, data per studi, data per jenjang pendidikan berapa guru yang dibutuhkan. Saat ini saya sering dikritik orang dari Bappenas dan Kementerian Keuangan, dengan menaikan anggaran, apa kontribusi pendidikan untuk kita?,” imbuhnya.

Di samping itu, Fasli juga mengatakan, meskipun banyak jumlah guru yang telah lulus portofolio, namun hal tersebut tidak akan mengubah sikapnya. Di dalam kelas, lanjut Fasli, khusus bagi guru matematika terlalu banyak membahas masalah yang tidak ada hubungannya dengan mata pelajaran. Bahkan, jumlahnya sangat tinggi hingga mencapai 11 persen. “Di negara lain seperti Jepang hanya 1-2 persen saja,” tegasnya.

Guru-guru yang tidak lulus fortofolio, katanya, dimasukan dalan program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Semuanya harus mengikuti pendidikan selama 90 jam. Padahal, kekurangan guru tidak semuanya sama. “Harus ada pembagian kelompok. Tidak perlu semuanya 90 jam. Terlalu menghabiskan waktu dan dana. Mungkin cukup 50 jam saja. Atau cukup 20 jam saja. Kita tetap tes potensi akhir dan personalnya,” harap Fasli. (cha/jpnn)

Pendidikan Tak Sekedar Di Atas Kertas

 

Alangkah  bijaknya jika pendidikan yang dilakukan benar-benar memerhatikan aspek penguasaan daripada kuantitas proses belajar. Pemahaman daripada  banyaknya hafalan di kepala. Terlebih lagi, kemampuan pengamalan atas interaksi ilmu yang didapat pada sekolah.

Akan tetapi kalau kita lihat bagaimana kondisi siswa-siswa sekrang ini, kebanyakan mereka hanya melakukan suatu proses pendidikan, tanpa mampu memosisikan diri sebagai produk pendidikan. Perilaku mereka belumlah mencerminkan bahwa mereka adalah golongan terdidik. Mereka mungkin mampu menghafal beberapa bab dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, tetapi pada prakteknya, mereka belumlah mampu mengamalkan pelajaran tersebut dalam kesehariannya. Hal ini terbukti dengan maraknya tawuran, geng-geng, dan indisiplin siswa misalnya dalam mematuhi peraturan lalu lintas.