Select Page

Seorang pemimpin harus berani menghadapi tantangan. Tak ada sekolah pemimpin, tak ada ijazah pemimpin. Pemimpin tak pernah lahir di dalam kelas, pemimpin lahir dari tantangan-tantangan kehidupan (hlm.10). Lahirnya pemimpin karena mereka telah menghadapi berbagai tantangan. Kemampuan itu yang membuat daya tahan mereka untuk tetap menjadi pimpinan meskipun melawan berbagai tantangan zaman. Seperti Soe Hok Gie, di usia 17 tahun dia lebih memilih berani menghadapi kesewenangan pemerintah saat itu. “ Di Indonesia, hanya ada dua pilihan, menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya”. Di saat teman-temanya mendekat kepada pemerintahan yang korup, Gie memilih melawan.

Para pemimpin besar memilih ketidaknyamanan demi perjuangan. Seperti Che Guevara. Calon dokter itu menutup rapat kenyamanan dan sikap santai dalam hidupnya. Dengan sepeda motor, Che memilih berkeliling Argentina dan bersentuhan dengan rakyat miskin. Lebih jauh, Che melawan kesewenangan. Che telah melegenda, menjadi ikon yang banyak menginspirasi anak muda. Pilihan itu pula yang dipilih oleh Soekarno hingga dia dibuang ke Bengkulu, Bung Hatta dibuang ke Digul, atau Hamka yang memilih dipenjara. Sebab, memimpin adalah menderita. Leiden is Lijden, kata Kasman Singodimejo yang dikutip Mohammad Roem.

Seorang pemimpin harus berani hidup sederhana. Inilah yang ditunjukkan oleh para founding fathers kita. Bapak Kaum Intelektual Indonesia, Agus Salim, dipuji Williem Schermerhorn, “Orang tua yang sangat pandai ini seorang genius dalam bidang bahasa, mampu berbicara dan menulis dengan sempurna dalam paling sedikit sembilan bahasa. Ia hanya mempunyai satu kelemahan, yaitu selama hidupnya melarat” (hlm. 39).

Bagi mereka kesederhanaan adalah kemuliaan, bukan kehinaan. Mereka mengakrabi kesederhanaan dengan kebanggaan yang tinggi. Tidak ada yang bisa merendahkan kesederhanaan mereka. Jabatan bukan untuk memperkaya diri dan keluarga .

Leader is reader. Para pemimpin adalah para pembaca. Betul, para founding fathers kita adalah para pembaca. Mereka memiliki koleksi buku yang mengagumkan sebagai sumber pengetahuan mereka. Semasa hidupnya, Bung Hatta memiliki 13.000 judul buku dalam kondisi baik. Saat pulang dari Belanda, Bung Hatta harus membawa 16 peti untuk buku, sementara hanya satu peti untuk pakaian (hlm. 140) . Bagi kalangan pelajar, buku adalah kehidupan. “Doctum Cum Libro. Kepandaian datang karena buku”. SBY memiliki koleksi 13.500 buku. Theodore Roosevelt rutin membaca tiga buku setiap hari. Semasa sekolah, Stalin, kamerad Rusia itu gemar membaca buku. Bahkan dia akan mengambil buku milik siswa lain dan membawanya pulang jika ia menyukai buku itu.

Keteladanan mereka seperti mata air yang tak pernah kering. Terus mengalirkan inspirasi tiada henti. Sederet kisah inspiratif mereka tetap hidup, meskipun mereka tidak lagi hidup. Keteladanan kepemimpinan mereka menjadi inspirasi hingga kini. Buku Leiden is Lijden ini layak dibaca untuk para calon pemimpin sebagai bekal menjadi sebenar-benar seorang pemimpin.

Judul : Leiden Is Lijden

Penulis : Dea Tantyo

Penerbit : PT. Elex Media Komputindo

Cetakan : Juli, 2017

Tebail : 256 halaman

ISBN : 978-602-043-343-1