Ulang Tahun Ceriaku

Akhirnya selesai juga aku membuat presensi dengan google form. Hari ini aku punya dua jadwal mengajar kuliah. Masih daring, tentu saja. Setiap pertemuan berdurasi satu setengah jam. Kalau tiga jam mengajar, sebetulnya enam jam aku di depan laptop. Persiapan mengajar itu bahkan bisa lebih lama daripada mengajarnya.

Ulangtahunku tiga hari lagi. Lama di depan laptop membuatku hampir melupakannya. Tapi seperti biasa aku yakin suamiku dan anak-anakku membuat perayaan kecil. Yah, sebagai bentuk rasa syukur.

Tahun lalu aku dikasih kado gamis. Tentu tidak lupa kue ulang tahun. Nah, tahun ini kira-kira dapat kado apa ya?

Aku dan suami punya kesepakatan. Kami tidak akan pura-pura lupa perayaan ulang tahun lalu memberikan surprise. Tidak akan. Sebab kami yakin harusnya kita tidak akan lupa ulang tahun pasangannya. Keterlaluan kalau lupa.

Karena itu aneh kalau pura-pura lupa lalu ngasih kejutan. Klise. Hehe…

Setiap ulang tahun kami bergantian memberikan kado. Tidak perlu mahal-mahal yang penting bermakna dan membuat bahagia. Biasanya kami membuat planning beberapa hari sebelum merayakan ulang tahun. Sebagai bentuk persiapan.

Tahun lalu, gamis bahkan sudah datang 3 hari sebelum tanggal 28 Januari. Ya, ulangtahunku setiap 28 Januari. Suamiku memesannya dari toko teman.

“Sekalian membantu jualan teman, Dek,” terangnya.

Kebayangkan kalau suami pura-pura ngasih kejutan, eh ternyata warnanya tidak sesuai seleraku dan ukurannya tidak pas. Wah, bisa-bisa ditukar lagi ke penjualnya. Hehe…

Sebaliknya, saat akan membeli kue ulang tahun suamiku, aku meminta pertimbangannya  dulu.

“Mas mau kue yang mana,” aku menyodorkan beberapa pilihan kue ulang tahun.

“Yang ini aja deh. Anak-anak kan suka cokelat,”

“Kan yang ulang tahun Mas,”

“Iya sih. Tapi kita kan makan kue nggak seberapa. Habis itu anak-anak yang habisin,”

“Iya juga. Anak-anak kan suka coklat ya. Ya udah ini aja Mas.

Begitulah di setiap ulang tahun kami. Selalu disiapkan. Tidak ada kejutan.

Tapi entah kenapa kali ini sudah dekat ke ulangtahunku tapi kok suamiku nggak nanya apapun. Aku mau nanya tapi sibuk dengan daring. Hufft

Aku sedang mengelap sepatu futsal. Sore ini aku berencana mau main futsal. Beruntung di daerahku belum termasuk zona kuning atau merah. Jadi masih memungkinkan untuk beraktivitas di luar rumah.

Tiba-tiba datang sulungku. Namanya Mas Jundi.

“Abi, bentar lagi bunda ulang tahun. Kita kasih kado ya,” lirih suara sulungku. Dia bisik-bisik supaya tidak terdengar oleh bundanya yang berjarak sekitar delapan meter.

“Emang iya Bunda ulang tahun?” tanyaku pura-pura.

“Iya, kata Amah juga gitu. Kata Amah kita belikan kado,”

Amah adalah pengasuh anak-anak. Selain beres-beres rumah Amah bertanggung jawab dengan hafalan Al Qur’an si sulung.

“Oke, kita mau ngado apa?”

Lalu si sulung membisikkan sesuatu ke telingaku. Seketika mataku membesar. Aku lalu mengapresiasinya. Dua jempol aku acungkan. Senyumku mengembang, meskipun di dalam mendadak miris.

 *

Satu hari lagi ulang tahun istriku. Mas Jundi datang sama adiknya.

“Kadonya udah beli belum?”

“Ssstt…jangan keras-keras, ntar Bunda denger,”

“Eh iya. Udah beli, Abi?”

“Belum, Mas,”

“Terus, kapan?”

“Entar sore ya. Beli di Abang-abang jualan aja,”

“Siap, Mas Jundi. Rahasia ya.”

Sayangnya, sore itu hujan. Jadi abang penjual mainan nggak datang ke perumahan. Padahal biasanya selalu datang.

Malam ini hujan. Besok ulangtahunku. Suamiku asyik main perang-perangan sama anak-anak. Aku? Masih di depan laptop.

Sedari tadi aku curi-duri dengar. Tapi tak kudapatkan apa yang kucari. Suamiku tak bertanya atau ngomong apapun.

 

Aku jadi cemas. Apa mungkin suamiku lupa? Ah rasanya tak mungkin. Eh tapi bagaimana kalau benar-benar lupa. Mau nanya tapi malu.

*

Aku sedang merapikan gerai saat Amah datang. Sesuai jadwal Amah datang jam 8 pagi. Aku membukakan pintu. Lalu Mas Jundi dan adiknya datang. Di belakangnya ada suamiku membawa kado.

“Selamat ulang tahun, Bunda,” kata Mas Jundi langsung memelukku. Adiknya juga. Suami ngasih kado ke Mas Jundi. Mas Jundi meneruskannya ke tanganku.

“Terima kasih, Abi,” ujarku. Aku yakin suamiku menyiapkannya.

“Sama-sama,”

Kadonya tidak terlalu besar tapi cukup membuat penasaran. Kertas kado sudah aku sobek. Kotaknya kubuka.  Eh ternyata masih ada pembungkus kado lagi. Setelah dibuka ternyata ada pembungkus kado lain. Hadeuh… bikin penasaran.

“Kok masih ada kotaknya lagi? Ini siapa yang mbikin?”

“Mas Jundi…” jawab sulungku.

Aku menatap suami. Dia malah tersenyum.

Akhirnya ini kotak terakhir. Dan saat aku buka, isinya benar-benar membuatku terkejut. Ternyata isi kadonya adalah……….tali rambut. Warnanya biru.

Ya, tali rambut sebiji doang. Aku pun ketawa ngakak. Benar-benar ngakak. Sampai keluar air mataku. Antara geli dan bahagia

Bukan air mata tangis karena remeh kadonya. Bukan. Justru ini adalah kado yang sangat aku butuhkan akhir-akhir ini.

Ya, di rumah seringkali aku tidak mengikat rambut. Beberapa ikat rambut yang kupunya raib entah ke mana. Akhirnya kado berupa ikat rambut menjawabnya.

Sambil tertawa aku mengucapkan terima kasih,

“Bener-bener ini nih. Bunda dari kemarin pengen beli tali rambut. Ini siapa yang punya ide? Makasih banget ya..”

“Mas Jundi sama Amah, Bun,” jawab Mas Jundi.

Tiba-tiba suamiku menyahut, “Kalau kurang ini masih ada lagi,” lalu suami pergi ke sebelah. Mengambil sesuatu. Ah, apalagi ini.

“Nih, buat bunda lagi,”

Kali ini bendanya nggak dibungkus. Jadi aku bisa tahu langsung isinya. Dan ternyata …tali rambut lagi. Kali ini warnanya kuning. Ya elah…kok nggak digabung aja, batinku. Maka tawaku datang lagi.

“Eits, ada lagi lho,”kata suamiku.

Wah, kali ini apa ya, pikirku. Anak-anak dan Amah pun menatap keheranan. Lalu suami meraih kotak kado di bawah meja kasir. Detik berikutnya kotak kado itu sudah berada di hadapan kami. Kali ini kertas kadonya kertas koran.

“Ini apa ya?”

“Hayo apa ya? Buka aja. Mas Jundi bantuin Bunda buka kadonya ya,”

Tak berapa lama kotak kado sedikit terbuka. Sulungku mengintip dari celahnya.

“Wah, ada jajan,” matanya terbelakak. Pasti dia suka sekali dengan jajan. Matanya semakin terbelalak saat semua isi kardus berhasil dihamburkan di lantai.

“Waaah, jajannya banyak banget,” lalu tangannya meraih semua jajanan itu. Adiknya pun ikut menyerbu. Memang jajanannya banyak sekali. Berpak-pak snack, minuman susu UHT, sosis, dan lainnya. Kepikir habis berapa ini.

“Dibagi-bagi ya sama adek. Kapan Abi bungkusin ini?”

“Tadi malam,”

“Kan hujan tadi malam,”

“Kan bisa pakai jas hujan,”

“Terus kapan mbungkusinnya?”

“Jam 3 pagi tadi. Sambil nonton bola, hehe..”

Aku tak tahu kalau suamiku bohong kalau tadi nonton bola.

Yang jelas pagi itu kami bahagia. Bukan hanya aku yang sedang ulang tahun saja. Tapi anak-anak dan Amah pun bahagia. Kami menikmati jajanan itu. Dan kami makin bahagia saat datang sebuah motor, mengantarkan pesanan puding ulang tahun yang dipesan suamiku malam tadi. Ah, benar-benar ulang tahun yang ceria. (*)