Pilih Laman

5 Rahasia Menjadi Guru Bercahaya

Benar-benar membanggakan menjadi guru yang bercahaya. Tapi di balik itu, ada tanggung jawab yang besar. Ya, menjadi guru bercahaya itu berat. Meskipun, walaupun berat, kebaikannya untuk sang guru itu sendiri.

Pekan lalu sekolah kami mengadakan acara kelas mentor. Seperti pembekalan untuk guru. Pembicaranya adalah ketua yayasan sekaligus guru kami yaitu KH A’la Rotbi LC dan KH Samson Rahman, MA.

Saya sering katakan kepada teman bahwa ustadz A’la Rotbi ini ibarat mutiara. Kadang mutiara itu terpendam.

Mengapa saya katakan mutiara? Lulusan Universitas Madinah ini ilmunya dalam dan wawasannya luas. Beliau sering sih menjadi narasumber tingkat nasional, tapi saya rasa harus sering lagi.

Beliau itu gudang ilmu. Ibaratnya, kalau ditanya apapun, beliau mampu menjawab dengan lugas dan jelas. Harusnya beliau menjadi pembicara kelas nasional.

KH. A’la Rotbi LC, memberikan sambutan pada perpisahan kelas 12 SMA Terpadu Al Qudwah

KH. Samson Rahman, MA dan KH A’la Rotbi, LC

Tidak berbeda jauh dengan KH. Samson Rahman MA. Penerjemah buku Laa Tanzan karya Dr. Aidh Al Qarni ini pun luas dan dalam pengetahuannya. Bacaan beliau sangat banyak sebanyak buku yang beliau punyai. Mengenai pembicara nasional, lulusan Universitas Islamabad Pakistan ini memang sudah melalangbuana ke daerah-daerah di Indonesia bahkan ke luar negeri. Bahasa Arab dan Inggrisnya sama-sama kuat.

Jadi, kami yang menjadi guru di lembaga ini, ibaratnya punya dua mutiara yang hebat. Rugi kalau tidak mendapatkan kehebatan dari ilmu keduanya.

Maka, saat ada kelas mentor ini, ada rasa bahagia karena akan mendapatkan untaian hikmah dari sosok-sosok hebat itu, sekaligus tanggungjawab yang berat. Inilah yang saya rasakan dari pertemuan itu.

Tentang Guru Cahaya

Jangan dibayangkan menjadi guru bercahaya dalam arti sebenarnya, bahwa wajahnya putih dan mengeluarkan cahaya. Bukan pula saat sang guru berada di kegelapan maka otomatis kegelapan itu menjadi hilang karena wajah sang guru. Bukan itu maksudnya.

Lalu, apa maksudnya guru bercahaya? Dan bagaimana menjadi guru bercahaya?

Pertama,

Rido dengan Pemberian Allah.

Rido jadi guru, rido dapat jabatan/amanah di sekolah, rido jadi Ayah, rido jadi Ibu. Memang banyak tantangannya menjadi guru. Tapi, dengan menjadi guru, terbuka peluang lebar untuk mendapatkan pahala. Terbuka peluang mendapatkan amal jariyah.  Karena menjadi guru itu berarti memberikan ilmu kepada generasi muda.

Yakini bahwa profesi guru merupakan anugerah terbaik kita. Lalu, maksimalkan pekerjaan kita itu.

Ringkasnya, guru harus banyak rido. Walaupun siswa banyak yang bandel, walaupun orangtua ada yang rewel, walaupun gaji tidak besar, walaupun guru punya banyak masalah di rumah, harus mengajar dan mendidik generasi muda.  Mudah-mudahan dengan ilmu itu bisa memberikan banyak pahala pada guru. Mudah-mudahan menjadi jalan bagi guru untuk masuk surga.

Kedua,

Guru Harus Menjadi Teladan.

Selain memberikan pendidikan kepada siswa melalui kata-kata, guru juga harus pandai memberikan keteladanan. Guru menjadi role model bagi siswa. Jika guru menginginkan siswanya jujur, guru harus menjadi pribadi jujur dulu. Kalau guru pengen siswanya disiplin, guru harus disiplin dulu.

Hati-hati dengan memberikan teladan yang buruk. Bisa jadi guru banyak ngomong hal positif kepada siswa tapi sering melakukan hal yang sebaliknya.

Misalnya guru ngomong pentingnya rajin ibadah, tapi bisa jadi guru itu sendiri yang malas melakukan ibadah itu. Maka, syaratnya adalah, guru harus lebih dulu melakukan, sebelum memerintahkan atau memberitahukan.

Iya sih meskipun guru bukan malaikat yang harus sempurna, tapi tetap saja guru harus berusaha menjadi sosok yang baik. Ibadahnya kuat, akhlaknya baik. Selaras ucapan dengan perbuatan.

Ketiga,

Perbaiki pikiran dan hati.

Selain memberikan pendidikan kepada siswa melalui kata-kata, guru juga harus pandai memberikan keteladanan. Guru menjadi role model bagi siswa. Jika guru menginginkan siswanya jujur, guru harus menjadi pribadi jujur dulu. Kalau guru pengen siswanya disiplin, guru harus disiplin dulu.

Hati-hati dengan memberikan teladan yang buruk. Bisa jadi guru banyak ngomong hal positif kepada siswa tapi sering melakukan hal yang sebaliknya.

Ucapan muncul dari pikiran. Raut wajah bersumber dari dalam diri (dalam dada). Terus perbaiki apa yang ada di dalam otak kita. Tingkah laku kita biasanya selaras dengan apa yang ada di dalam hati kita. Kalau ada salah, terus perbaiki. Kalau ada yang menyimpang, luruskan.

Banyak-banyak istigfar, berpikir positif, dan selalu berprasangka baik. Apapun yang dilihat, jadikan sebagai hal yang membuat keimanan meningkat.

Keempat,

Perbaiki terus Hubungan dengan Allah. 

Siapa yang terus memperbaiki hubungan dengan Allah, Allah akan terus memperbaiki hubungannya dengan manusia. Lakukan ibadah dengan semangat. Jangan malas melakukannya.

Jangan lupa kualitasnya ditingkatkan. Jalankan ibadah dengan khusyuk dan ikhlas. Semakin hari harus semakin bagus tilawah, shalat, shaum, dan lainnya.

Hubungan kita dengan Allah akan terpancar dari diri kita. Kalau kita sedang jauh dari Allah, biasanya kita tidak produktif. Selalu ada masalah dalam hidup kita. Pekerjaan pun menjadi tidak maksimal.

Misalnya guru ngomong pentingnya rajin ibadah, tapi bisa jadi guru itu sendiri yang malas melakukan ibadah itu. Maka, syaratnya adalah, guru harus lebih dulu melakukan, sebelum memerintahkan atau memberitahukan.

Iya sih meskipun guru bukan malaikat yang harus sempurna, tapi tetap saja guru harus berusaha menjadi sosok yang baik. Ibadahnya kuat, akhlaknya baik. Selaras ucapan dengan perbuatan.

Kelima,

Perbanyak Manfaat di lingkungan.

Ya, guru merupakan cahaya yang menjadi cahaya bagi keluarga dan lingkungannya. Bukan menjadi gulita. Orang lain menjadi terang karena kita. Jadilah qudwah dalam arti sebenarnya. ‘Viral-lah’ di kalangan malaikat karena ibadah kita, karena amalan-amalan produktif kita.

Kalau ada kita, masyarakat merasakan manfaat. Terbantu dengan keberadaan kita. Bukan sebaliknya, mereka merasakan kita sebagai masalah. Jangan sampai kita menjadi beban di masyarakat.

Guru adalah cahaya saat ada murid atau tidak. Maka, keteladanan guru harus jalan terus baik saat ada siswa maupun tidak ada siswa.

Guru ibarat cermin bagi murid. Kalau hubungan guru ke Allah melemah, begitu juga dengan murid kita. Jangan sampai guru mendorong siswa untuk kebaikan, tapi malah guru menjauhi kebaikan itu.

Penutup.

Begitulah peran seorang guru. Betapa berat, sekaligus hebat. Hebat kalau bisa mencapai apa yang digambarkan dalam tulisan di atas. Yang merupakan harapan pemateri terhadap guru-guru di sekolah kami. Begitu juga diharapkan kepada guru-guru di seluruh Indonesia. Semoga kita diberikan kemampuan menjadi guru cahaya. Aamiin.

Jika tulisan ini bermanfaat, silakan menyebarkannya. Terima kasih.