Pilih Laman

GuruInovatif.id

Platform terbaik

untuk Tingkatkan Mutu & Sertifikasi Guru

Selama belajar dari di masa pandemi, tugas guru semakin berat. Bukan saya mengatur strategi menguasai teknologi tapi juga menerima kritik ‘makan gaji buta’. Bagaimana guru menyikapinya?

“Anak-anak gimana ini ya? Sudah kelas 10 SMA tapi kok pelajaran kelas SD masih nggak bisa. Masa iya kita harus ngajar pelajaran SD lagi?”

“Wah sama Pak di tempat saya juga begitu. Anak-anak itu pecahan aja entah lupa ntar nggak bisa. Kalau hitung-hitungan itu kan sering menggunakan pecahan desimal atau pecahan campuran. Itu kan pelajaran SD juga.”

Begitulah yang terjadi dalam percakapan percakapan MGMP guru beberapa waktu lalu. Selama belajar daring saat pandemi, pekerjaan guru semakin berat. Mengeluhkan siswa yang sulit memahami materi pembelajaran.

Saat pembelajaran tatap muka saja siswa susah paham. Apalagi daring. Dulu kurang semangat belajar, sekarang semakin tidak semangat belajar. Dari 30-an siswa hanya 8 yang on camera saat belajar daring.

Lalu guru ada yang cuek mengajar sekadarnya. Akhirnya Cuma ngasih tugas. Siswa mengerjakan soal di buku. Tugas dikumpulkan. Bisa dinilai bisa juga tidak.

Tidak semua guru yang begitu. Ada juga guru yang komitmen dengan perannya. Memaknai tugasnya sebagai pendidik. Tidak mau hanya memberikan tugas saja. dia punya tanggung jawab agar siswa paham ilmu yang diberikan.

 GURU MAKAN GAJI BUTA?

Selama belajar dari di masa pandemi, pekerjaan guru semakin berat. Bukan saya mengatur strategi menguasai teknologi tapi juga menerima tuduhan ‘makan gaji buta’.

Seorang rekan guru, dan bilang, “Ya sudah biar anaknya diajar sendiri aja. Kasih nilai sendiri, kasih raport sendiri, diluluskan  sendiri.”

Tapi nggak semua guru yang bilang seperti itu. Ada juga guru yang merespon dengan baik. Dia bilang yang penting kita sudah berusaha mengajar dengan baik. Kan tidak semua anak yang bisa menangkap pembelajaran dengan cepat.

Yang penting kita memahamkan bahwa belajar itu sangat penting. Terus, sesulit apapun guru mengajar, jangan lupa tetap melakukan pendidikan karakter.

Jadi guru memang nano-nano rasanya. Saya sudah 10 tahun menjadi guru. Banyak hal yang saya rasakan. Kadang kesal, capek, bahkan marah. Tapi juga sering  bahagia, bangga, bahkan terharu.

Selama pandemi, kita banyak menggunakan blended learning yaitu campuran antara pembelajaran tatap muka dan belajar daring. Sebetulnya Indonesia akan siap menerapkan pembelajaran ini. Kapan waktunya? Di tahun 2035.

Namun, negara api pandemi lebih dulu menyerang. Akhirnya, blended learning semakin cepat diterapkan. Hasilnya? Karena mendadak, banyak guru yang tergagap dengan penggunaan teknologi.

 

Pembinaan Kompetisi Sains Nasional tingkat Kabupaten (saat PTM)

Tantangan Guru Saat Belajar Daring Selama Pandemi

Jadi wajar kalau di awal pandemic dulu banyak masalah yang ditemui. Mulai dari minimnya akses internet, kuota internet terbatas, mati listrik, atau kehadiran siswa minim.

Selain itu, banyak guru yang gagap menggunakan teknologi seperti zoom, google meet, google suite, presentasi power point, membuat video pembelajaran, dan lainnya. Juga memilih strategi pembelajaran, menghidupkan suasana kelas, memberikan tugas, menilai tugas siswa, dan lainnya.

Sudah 1,5 tahun lebih kita mengalami pandemi. Sudah ada 2 angkatan yang lulus. Perpisahan dilakukan secara virtual. Sudah selama itu, ternyata masih ada guru yang belum menguasai teknologi. Begitu pun banyak guru yang masih sulit mengatur kelasnya. Sehingga, saat daring, pembelajaran masih sepi dan berjalan kurang menarik. Misalnya itu tadi, dari 30-an siswa yang hadir belasan siswa, itu pun yang on camera hanya beberapa saja.

Hal ini terjadi juga di kelas saya. Sedikat yang hadir. Selain itu, saya heran, kenapa ada siswa yang telat mengirimkan tugasnya. Dan hal ini terjadi beberapa kali. Saya penasaran. Ada apa dengan siswa ini?

Saya lalu berdiskusi dengan seorang teman. Kebetulan dia lebih senior dari saya. Ternyata dia pernah mengalami hal yang sama. Namun dia sudah menemukan solusinya.

“Kita tidak bisa langsung menyalahkan siswa. Sebelum memulai pembelajaran seorang guru hendaknya melakukan asesmen ketersediaan fasilitas pada siswa. Guru harus mendata siswa yang punya HP atau laptop. Lalu, apakah HP dan laptop punya sendiri, punya orang tua, atau dipakai bersama.”

Hmm, apa bedanya, kenapa harus dilakukan, Mas?”

Saat itu kami mengobrol di warung kopi. Kenapa warung kopi? Biar suasananya lebih cerah. Sekalian refreshing untuk mendapatkan hal yang baru dari biasanya.

“Pertama, kalau hape atau laptopnya punya sendiri, harusnya dia bisa kapan pun masuk kelas atau mengerjakan tugas. Jadi kalau dia telat atau tidak hadir, kita harus dengarkan alasan dia, lalu kasih pemahaman.”

“Ok, paham, Mas. Terus?”

“Kalau alat itu dipakai bersama, bisa jadi dia nunggu gilirannya. Mungkin saat itu sedang dipakai saudaranya untuk belajar daring juga.  Maka, dia harus bergantian. Dia bisa mengerjakan tugas kalau saudaranya sudah selesai pakai alat itu. Nah, kalau begitu, apa kita mau kesal sama siswa?”

Right. Benar juga. Lanjutkan, Mas”

Senior saya tidak langsung menjawab. Melainkan menyeruput kopi di depannya. Menikmati benar seruputan kopinya.

“Terakhir, bisa jadi dia tidak punya handphone. Dia pakai handphone orang tuanya untuk belajar daring,”

“Sebentar, zaman now apa iya ada yang tidak punya handphone, Mas?”

“Kan tidak semua orang itu kaya. Banyak yang tidak punya. Bahkan kehidupan mereka sulit. Kalau di kota mungkin iya semua punya handphone. Lha kalau yang tinggal di pelosok? Banyak lho yang tidak punya handphone. Apalagi laptop. Jadi dia harus nunggu orang tuanya pulang dari kerja, baru bisa masuk kelas, mengecek ada tugas, dan mengerjakannya. Kalau begitu, apa tega kita kesal dan marah sama siswa?”

Saya terdiam. Tak menjawabnya. Mikir. Benar juga ya. Banyak siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Tak mampu membelikan handphone untuk anaknya. Kadang kita seakan tak percaya. Tapi inilah realita yang ada di sekitar kita.

Dari sana saya dapat pemahaman kalau guru tak boleh langsung kesal atau marah kalau siswa telat atau bahkan tidak bisa mengerjakan tugas yang diberikan. Hm, selama ini guru (baca: saya) pukul rata. Menganggap siswa taka da masalah dengan peralatan belajarnya.

Pembaca, setuju enggak kalau setiap pekerjaan punya resiko masing-masing. Pepatah jawa mengatakan Urip kui sawang sinawang. Maksudnya adalah kita seringkali menganggap kehidupan orang lain lebih baik dari kita. Padahal orang lain pun demikian menganggap hidup kita lebih baik darinya.

Profesi guru tentu ada tantangannya. Apa tantangannya? Banyak. Salah satunya ada kritik dari orang tua. Lalu apakah itu menjadikan kita mundur sebagai guru? Mundur sebagai guru bukanlah solusi. Jangan menganggap profesi ini yang paling berat. Percayalah bahwa profesi yang kadang membuat kita bosan sebetulnya diincar oleh banyak orang. Sepakat?

MENJAWAB KRITIK

Daripada sibuk memasang alibi, lebih baik introspeksi diri. Daripada sibuk mengklarifikasi, lebih baik lakukan perbaikan diri.

Namanya manusia pasti ada kekurangan. Orang mengkritik itu wajar. Kalau dikritik, terima saja dulu. Kritik ibarat pengingat, agar kita mengevaluasi diri. Kritik bisa benar, bisa salah. Kalau salah, kota cuekin saja. Berbuatlah seperti yang sudah-sudah. Lha kalau kritik itu benar, kita harus mengubah perilaku kita.

Lebih baik kita lebih semangat menjalankan tugas sebagai guru. terus belajar dari banyak tempat dan orang. Seperti kata Ki Hadjar Dewantara yang mengatakan Setiap orang adalah guru. Setiap tempat adalah sekolah.

Kalau tidak bisa mengatasi masalah yang ditemui, bisa berbagi dan berdiskusi dengan rekan guru. Siapa tahu dia pernah punya pengalaman yang sama. Akhirnya kita bisa mendapatkan solusi untuk masalah yang kita hadapi tadi.

Selain berdiskusi, kita bisa belajar dari berbagai pelatihan. Lalu bagaimana kalau masih pandemi? 

Nah, kita bisa ikuti pelatihan secara online. Dan pelatihan online terbaik untuk guru bisa dibilang adalah GuruInovatif.

Saya mengenal guruinovatif.id sejak 11 September 2020 lalu. Berbagai kegiatan guruinovatif.id yang sudah saya ikuti. Saya tak merasa bosan, justru semakin penasaran.

GuruInovatif.id adalah sebuah platform online learning yang menyediakan kursus, pelatihan, dan sertifikasi untuk guru. Semuanya bisa diakses secara daring atau online. Jadi kita bisa belajar dan meningkatkan kualitas mengajar, menambah wawasan, dan meningkatkan skill tanpa harus keluar rumah. Mudah belajarnya, luar biasa hasilnya.

Kelebihan dan Kemudahan Pelatihan Online

Pertama, pelatihan lebih menarik karena dikemas dengan rapi dan melibatkan teknologi.

Kedua, hemat biaya . Jika dibandingkan pelatihan secara langsung (offline) biaya pelatihan jauh lebih murah. Biaya pendaftaran pelatihan lebih mahal. Belum lagi transportasi ke lokasi pelatihan.

Ketiga, ruang lingkup semakin besar. Kita bisa bertemu dan berinteraksi dengan guru dari berbagai daerah. Semakin beragam interaksi, semakin besar pula ilmu yang bisa didapatkan.

Keempat, efisiensi waktu. Biasanya sertifikat pelatihan online lebih cepat didapat dibanding sertifikat offline. Setuju?

Lalu, apa saja yang bisa guru dapatkan di GuruInovatif.id? Banyak, lho. Guru dapat mendapatkan Pelatihan Guru yang dengan kemudahan akses lewat zoom, Youtube, hingga Instagram live. Jika ada rekamannya, kita bisa mengaksesnya kapan pun kita bisa.

Tersedia pula sertifikat dalam kegiatan GuruInovatif.id dengan 4 JP hingga 32 JP. Sertifikat ini tentu sangat memudahkan untuk Sertifikasi Guru seperti halnya kenaikan pangkat, jenjang karir, guru berprestasi, dan lainnya.

Hampir setiap pekan atau GuruInovatif.id mengadakan kegiatan. Tentu saja ini memberikan kesempatan guru untuk mendapatkan ilmu seluas-luasnya. Sebagai bentuk kemudahan Guru Belajar bergabung di GuruInovatif.id merupakan pilihan yang pas.

Di GuruInovatif.id kita juga dengan mudah mengakses video, artikel, dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Download RPP juga di GuruInovatif.id saja yang semakin cepat, mudah, dan berkualitas layanannya.

Tak hanya meningkatkan skill, GuruInovatif.id mengubah paradigma. Dulu saya tak berpikir harus mengupgrade diri.

Merasa yakin dengan kemampuan yang sudah dimiliki. Selama beberapa kali mengikuti pelatihan GuruInovatif.id wawasan semakin berkembang.

Sejak September 2020 lalu hingga sekarang banyak sekali kegiatan GuruInovatif.id yang saya ikuti. GuruInovatif.id punya banyak yang bisa kita pilih untuk meningkatkan mutu guru. Juga untuk kepentingan Sertifikasi Guru.

 

1. Productivity Course

Dengan mendaftar di GuruInovatif.id, kita bisa mendapatkan berbagai kursus secara gratis. Kita juga bisa dapatkan sertikat 8 JP dengan menyelesaikan pelatihan dengan video berkualitas tinggi yang sangat related untuk pengalaman mengajar .

 

2. Mini Course

Mini Course atau kursus mini menghadirkan topik-topik seperti Pedagogik Content Knowledge (PCK) dan High Order Thinking Skill (HOTS) untuk segala jenjang. Mini Course bersertifikasi 16 JP.

3. Online Certification

Berbagai skill untuk guru atau bukan guru, bisa kita dapatkan dan tingkatkan di GuruInovatif.id. Ada kursus online premium bersertifikat 32 JP yang terdiri dari video pengajaran. Cocok untuk guru TK hingga SMA.

4. Bincang GuruInovatif (GI)

Bincang GuruInovatif (GI) menghadirkan pembicara dari guru dan praktisi pendidikan dari berbagai daerah, bahkan lintas negara, lho. 

5. Online Guru Inovatif Class

Satu lagi program Guru Inovatif yang keren. Mendatangkan berbagai narasumber ahli dalam  seminar online atau webinar. Pasti semakin bertambah skill guru.Kita juga bisa dapatkan sertifikat 4JP.

6. Guru Inovatif Academy

Guru Inovatif Academy memberikan pelatihan yang semakin lengkap karena ada materi, mentoring, dan pelatihan langsung secara berkala. Program ini sangat menunjang kemampuan dan softskill dalam pengajar. Kita bisa dapatkan sertifikat 32 JP dalam program ini.

Sertifikat Bincang Guru Inovatif

Sertifikat Guru Inovatif Class

Sertifikat Innovation School Leaders and Teacher Forum (ISLTF)

Sertifikat Guru Inovatif Class

Hafiz Anshari, S.Si., S.Pd. dalam GI Class pada Jumat, 8 Oktober 2021 memotivasi guru Indonesia agar percaya diri membuat konten di media sosial. 

Anshari mengutip perkataan Raditya Dika, “Kalau kamu suka baca, mulailah menulis. Kalau kamu suka nonton, mulailah membuat film.

Anshari mendapatkan data bahwa siswa yang diberikan video pembelajaran yang dibuat oleh guru sendiri akan membuat siswa lebih tertarik, siswa termovitasi, dan membuat lebih terkesan.

Karena itu,  guru harus pede (percaya diri) membuat konten pembelajaran sendiri. Kalau kurang mahir itu bisa diatasi dengan banyak latihan dan masalah jam terbang.

Keunggulan belajar dan pelatihan di GuruInovatif.id

Meningkatkan Skill Guru

Trainer Berpengalaman

Kursus Bersertifikasi

Belajarnya Mudah

GuruInovatif.id telah dipercaya oleh guru dan pegiat pendidikan di berbagai daerah di Indonesia. Telah 90.000 lebih guru dan pegiat pendidikan, 11. 000 lebih sekolah dan instansi pendidikan dengan 450 lebih pelatihan di lebih dari 450 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. 

GuruInovatif.id memberikan kesampatan kita untuk mendapatkan berbagai fasilitan dengan biaya yang sangat terjangkau melalui program membership.

Untuk membership, nanti akan mendapat fasilitas VVIP/Premium webinar dan course bebas selama 1 tahun. Termasuk fasilitas Bincang GI, GI Class. GI Academy dan ISLTF.

Program ini sangat hemat. Terdapat pilihan paket Rp. 135.000 untuk 3 bulan, Rp. 249.000 untuk 6 bulan, dan Rp. 365.000 untuk 1 tahun.

Jika dirata-rata berbagai fasilitas GuruInovatif.id hanya berbiaya mulai dari Rp. 1.000,- perhari. Kesempatan betul ini kan?

Tentu kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Kapan lagi dapat pelatihan keren, bergabung dengan acara-acara bagus, dengan Biaya Terjangkau?

Kata orang, “Kesempatan tidak datang dua kali. Kalau ada kesempatan menghampiri, segera dieksekusi’.

Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya sudah bergabung dengan membership. Jadi bisa mengakses berbagai pelatihan dan acara lagi.

Seorang guru perlu terus meningkatkan kualitasnya. Bukan saja untuk kebaikan diri sendiri, tapi juga agar bisa memberikan pendidikan yang terbaik untuk generasi muda Indonesia.Indonesia masih punya banyak masalah yang menunggu solusi. Mulai dari ketimpangan sosial, hukum yang belum tegak dengan benar, korupsi yang merajalela, atau ekonomi yang belum bangkit.

Kita bisa lho menjadi bagian dari solusi permasalah bangsa. Kalau guru mendidik dengan sebaik-baiknya, mudah-mudahan siswa-siswa kita ada yang bisa menjadi solusi bagi permasalahan bangsa. Maka, jangan pandang remeh profesi guru. Sebab, bisa jadi dari didikan guru, Indonesia akan maju. Aamiin. (*)