Pilih Laman

Strategi Agar Perpustakaan Menjadi Pusat Kegiatan dan Literasi Informasi

Setiap hari Senin di awal bulan sekolah kami punya acara speak up. Kegiatan ini merupakan sifatnya menampung aspirasi dari siswa. Jadi di acara itu siswa menyampaikan usulan saran dan kritik kepada sekolah.

Apa saja yang mereka sampaikan? Keinginan apa yang paling mereka keluhkan?

Perpustakaan daerah kebanggaan kota kami

Mereka (siswa kelas X – XII SMA) bilang yang pengennya buku-buku di perpustakaan disesuaikan dengan minat dan hobi mereka misalnya novel fiksi dan bacaan-bacaan ringan yang enak untuk mereka baca. Mereka juga pengen agar perpustakaan bisa semakin nyaman buat mereka baca.

Sekilas, saya heran dengan keinginan mereka. Masa iya perpustakaan diisi dengan buku-buku fiksi? Lha biasanya perpustakaan itu diisi dengan buku-buku yang menunjang belajar mereka. Sebagai guru yang baik (hehe…) saya terima dan dengarkan keinginan mereka. Setelah dipikir-pikir benar juga apa yang mereka sampaikan. Buku yang yang mereka inginkan membuat mereka betah di perpustakaan.

speak up siswa SMA AL Qudwah

Kegiatan speak up siswa di sekolah

Saya melakukan pikir, kalau jadi siswa, pasti buku-buku seperti itu pula yang saya inginkan. Buku-buku ringan dan enak dibaca akan membuat betah di perpustakaan. Berbeda dengan membaca buku-buku pelajaran yang biasanya tidak akan betah lama, cepat mengantuk, dan bosan di perpustakaan.

Nah, jadi kalau ingin siswa betah di perpustakaan salah satunya adalah menyediakan buku-buku sesuai dengan minat mereka. Ada baiknya perpustakaan tidak hanya diisi dengan buku-buku paket yang malah kadang tidak dibaca.

Anak-anak generasi Z sekarang ini patut bersyukur perpustakaan zaman now semakin bagus. Perpustakaan semakin berbenah untuk mengundang kehadiran pengunjung. Jauh sekali kemajuannya kalau dibandingkan dengan kondisi perpustakaan saat saya sekolah dulu. Ya, kondisinya jauh berbeda.

Perpustakaan Zaman Old

vs Zaman Now

Perpustakaan zaman old atau zaman dulu tampilannya kolot. Jangan bayangkan ada pendingin udara atau AC. Paling banter kipas angin. Malah kadang tidak ada kipas anginnya. Rata-rata bukunya adalah buku paket atau buku pelajaran. Daftar perpustakaan sih sering, tapi bukan untuk baca buku tetapi karena belajarnya dialirkan ke perpustakaan. Hehehe…

 Tampilannya juga tidak instagramable. Tapi dulu juga kan belum ada Instagram. Rak-rak buku pun standar saja tampilannya. Kurang seru juga buat foto-foto. Dulu juga belum ada android. Jadi kurang seru kalau untuk foto-foto. Eh tapi ke perpustakaan kan buat baca ya. Bukan buat foto-foto.

Zaman now, perpustakaan di mana-mana berbenah. Dari segi tampilan jauh enak dilihat. Juga dilengkapi dengan pendingin udara atau AC. Jadi betah di perpustakaan walaupun bukan baca buku. Rak-rak bukunya keren-keren. Ada pula bantal-bantal duduk. Berwarna-warni enak dipandang.

Kadang ke perpustakaan hanya untuk foto-foto. Apa salah? Ya nggak juga. Minimal senang mengunjungi perpustakaan dulu. Setelah itu, cari strategi agar perpustakaan berfungsi seperti yang diharapkan.

 

Perpustakaan di sekolah saya pun berbenah. Tampilannya keren. Ada pendingin udara membuat kondisinya adem dan nyaman. Pastilah betah di perpustakaan. Rak-rak bukunya keren juga. Buku jadi enak dipandang. Lalu bagaimana dengan isinya? Nah, sesuai keinginan siswa, buku-buku fiksi atau novel pun sudah diperbanyak.

Bahkan perpustakaan bisa digunakan untuk banyak hal seperti bedah buku, diskusi, mengerjakan tugas sekolah, maupun pelatihan menulis. Sekolah kami punya program menerbitkan buku.

Jadi dalam setiap tahun, siswa menulis dan menerbitkan buku. Buku ini biasanya ditulis oleh para siswa Kelas 12 SMA.

Program ini rutin dilaksanakan sejak 2013 lalu. Sudah ada beberapa buku yang terbit. Bukunya berjenis antologi. Jadi terdiri dari beberapa penulis dalam satu buku.

Anggaplah itu sebagai kenang-kenangan saat mereka bersekolah. Tidak banyak lho orang yang menulis atau punya buku. Jadi mereka adalah siswa yang hebat karena saat sekolah saja sudah bisa menulis buku.

Untungnya program sekolah ini mendapat dukungan penuh dari kepala sekolah. Program ini mendukung literasi sekolah yang saat ini gencar digalakkan.

Alhamdulillah, sekolah kami sudah melakukan program literasi sekolah sejak dulu. Bukan hanya membaca, tapi juga menulis buku.

Beberapa karya siswa kami seperti yang terlihat pada gambar.

Pengalaman Berkunjung Ke Perpustakaan Daerah

Beberapa kali saya mengajak keluarga berkunjung ke perpustakaan daerah. Namanya perpustakaan Saija Adinda. Merupakan perpustakaan daerah kebanggaan masyarakat Lebak Banten. Perpustakaan ini terletak di pusat ibukota kabupaten Lebak. Letaknya sangat strategis, dekat alun-alun Rangkasbitung.

Saat berkunjung ke sana, bukan hanya disuguhi berderet buku yang sedap dipandang mata, tapi juga kenyamanan ruang dan sarananya. Bersih, rapi, adem, dan nyaman. Untuk baca buku tersedia ruang baca baik itu baca di kursi dan meja serta lesehan.

Jika memilih ruang anak-anak, fasilitas pun disesuaikan dengan usianya. Ada meja dan kursi khas anak-anak. Ada juga kursi angin yang cocok untuk pilihan duduk berkeluarga. Desain rak bukunya pun unik-unik. Saat saya berkunjung ke sana, tidak sedikit yang justru berfoto karena memang desain ruangan yang ciamik. Tidak monoton.

Jelas saja, pengelola perpustakaan ingin memanjakan mata pengunjung. Jika lebih ke dalam di ruang anak, kita dapatkan spot baca yang dapat memantau suasana alun-alun. Tapi jangan malah lupa dengan baca bukunya ya.

Membawa anak ke perpustakaan daerah

Suasana yang adem membuat kita betah di sana. Kedap suaranya menjadikan kita fokus dengan bacaan. Petugas perpustakaannya ramah dan memberikan pelayanan yang terbaik. Namun tetap tegas mengingatkan jika ada yang terlupa bawa tas atau makanan dan minuman ke dalam perpustakaan.

Di lantai bawah ada kafe perpustakaan yang menyediakan makanan dan minuman. Jadi perpustakaan ini memiliki lantai. Di bagian atas tersedia koran, majalah, dan lainnya. Sementara di lantai dasar terdapat ruang audio visual, ruang pertunjukan, dan lainnya.

Jangan lupa untuk mengisi daftar pengunjung jika kita berkunjung. Mengisinya di komputer yang tersedia di pusat informasi, berada di depan pintu masuk. Sebagai alternatif liburan keluarga, perpustakaan Saija Adinda jadi tempat yang seru untuk keluarga. Jadi, bukan hanya liburan saja tapi kita bisa menambah ilmu pengetahuan. 

Lain waktu saya mengajar siswa-siswa berkunjung ke perpustakaan kebanggaan di kota kami. Mereka sangat menikmati kunjungan ke perpustakaan. Akses masuk ke ke perpustakaan sangat mudah. Ada katalog digital yang memudahkan dalam mencari buku. Ruang bacanya sangat nyaman. Anak-anak mendapatkan pengalaman berkunjung ke perpustakaan yang sangat berkesan. 

Bersama siswa mengunjungi perpustakaan daerah

Wilujeng Sumping, sambut pustaka itu. Langsung dari pintu masuk, saya terkesan dengan beberapa novel babad tanah Jawa seperti menak jinggo atau pahlawan jawa untung surapati. Bukunya tebal, sekilas seru dan asyik dibaca. Saya, kalau tidak ingat di rumah masih banyak buku yang belum dibaca, bakal pinjam buku itu. Toh, syarat minjam juga sangat mudah. Cuma nyerahkan fotocopy KTP atau kartu OSIS/kartu siswa bagi yang masih sekolah. Bukunya cukup banyak, meski belum lengkap benar. Tapi itu saja jika dibaca sudah banyak pengetahuan yang didapat, sudah banyak wawasan bertambah. Buku pemerintahan, politik, sains, sastra atau islami. Tersedia buku semua usia, anak-anak, remaja dan orang tua.

Desain bentuk pustaka Saija Adinda cukup unik, dengan melibatkan unsur bahan bambu sebagai kekayaan alam Lebak. Malah kata siswa saya, desainnya mirip bandara, dibuat miring. Jika kita baru datang, disambut tulisan Wilujeng Sumping, rasa Sunda sekali. Bahkan perpustakaan ini dipakai untuk banyak kegiatan. Seperti lomba-lomba, pelatihan, maupun diskusi bedah buku.

Terpukau Saat Ke Perpustakaan Nasional

Pernah kami mengunjungi perpustakaan nasional (perpusnas). Terpukau kami saat berada di sana. Banyak hal yang membuat kami berdecak kagum. Kalau berkunjung ke sana, kita sudah vaksin. Di sana kita harus scan barcode Pedulilindungi. Tapi bisa juga dengan membawa kertas, jadi secara manual saja. print-an nya. Di dalam kami ditakjubkan dengan penataan ruangan. Kami pikir Perpusnas akan dipenuhi buku-buku saja. Tapi ruangannya enak buat ambil foto. Banyak sejarah Indonesia yang menarik, terlebih mengenai buku dan tulisan. Ada juga profil beberapa penulis beserta puisi khasnya yang ditampilkan di layar-layar kecil tersusun di dinding ruangan yang mirip dengan ruang tamu. Ada 24 lantai di perpusnas. Maka pemandangan di atas sana sungguh memukau.

Perpusnas ini milik bangsa Indonesia. Sudah seharusnya menjadi kebanggaan bagi kita. Kalau ada waktu, datang dan kunjungilah. Banyak hal yang bisa didapatkan. Bisa pula belajar sejarah bangsa dari perpusnas.

.

Saat mengunjungi perpustakaan nasional

Perpustakaan Unsyiah, Perpustakaan Modern Sarat Prestasi

Universitas Syiah Kuala (USK) merupakan perguruan tinggi negeri tertua di Aceh. USK memiliki perpustakaan yang merupakan  representasi perpustakaan kekinian. Perpustakaan yang didirikan pada tahun 1970 ini layak jadi rujukan bagi pengelolaan perpustakaan lainnya. Berstatus sebagai Unit Pelayanan Teknis (UPT) pada tahun 1980, UPT. Perpustakaan Unsyiah menyatukan semua perpustakaan yang ada di lingkungan Unsyiah di dalam satu wadah. Koleksinya pun lengkap.

Profil perpustakaan Universitas Syiah Kuala

Punya Banyak Prestasi

Perpustakaan bervisi menjadi pusat informasi ilmiah yang menginspirasi dan memotivasi pencapaian visi dan misi Universitas Syiah Kuala ini banyak prestasinya.

UPT. Perpustakaan Unsyiah telah memiliki beberapa sertifikasi seperti Akreditasi “A” dari Perpustakaan Nasional, Certificate ISO 9001:2015, Certificate ISO/IEC 27001:2013, Certificate ISO 20000-1:2018 dan Perpustakaan Unsyiah Juga Menerima Penghargaan SNI Award 2019 peringkat “PERUNGGU” dari Badan Standarisasi Nasional (BSN).

Koleksi Lengkap

UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala memiliki koleksi meliputi buku teks, terbitan berkala (jurnal), laporan akhir, skripsi, tesis, disertasi, majalah, buku referensi, laporan penelitian, CD-ROM dan dokumentasi.

Perpustakaan Unsyiah memiliki koleksi cetak dan elektronik. Untuk koleksi elektronik, perpustakaan berlangganan e-book dan e-journal pada beberapa penerbit internasional. Ini bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa sebagai sumber referensi yang akurat dan faktual. UPT. Perpustakaan USK juga memiliki UILIS atau USK Integrated Library Information System yang menyediakan informasi secara menyeluruh tentang layanan perpustakaan.

Peminjaman

Anggota Aktif

Koleksi Buku

Koleksi Eksemplar

Didukung Banyak Fasilitas

Perpustakaan Unsyiah memiliki banyak fasilitas. Fasilitas-fasilitas itu di antaranya Teater Mini Adnan Ganto, Ruang Baca Perempuan, Ruang Baca Laki-laki, Ruang Pasca Sarjana, Library Coffee, Library Gift Shop, Man Corner Library, Foto Copy, Digital Corner, Mushala Perempuan, Ruang Meeting/Seminar + White Board, LCD Proyektor Wifi Kapasitas 80 orang, Ruang Meeting/Seminar + White Board, LCD Proyektor Wifi Kapasitas 20 orang, Full AC, Full Internet Wifi atau Lan Cable.

UPT. Perpustakaan USK juga punya banyak kegiatan. Misalnya Korea Corner yang berfungsi sebagai pusat studi bahasa Korea. Juga ada kegiatan USK Library Fiesta 2022 yang digelar tahun ini. Salah satunya adalah dengan lomba blog perpustakaan.

 

Peminjaman Mandiri

Salah satu keunggulan UPT. Perpustakaan USK adalah peminjaman mandiri. Dengan sistem ini, mahasiswa bisa meminjam buku dengan pelayanan sendiri. Caranya pun mudah. Dengan sistem self service ini mahasiswa bisa semakin mudah dan mandiri dalam peminjaman buku. Bagaimana detail penggunaan fasilitas ini? Selengkapnya ada di video ini ya.

Menumbuhkan Budaya Literasi Bangsa

Menumbuhkan budaya membaca  paling efektif dilakukan melalui keteladanan. Sebab, budaya membaca bukan diajarkan, melainkan ditularkan.
Anak-anak tidak pernah baik dalam mendengarkan orang yang lebih tua. Namun anak-anak tidak pernah gagal dalam meniru orang yang lebih tua (James Baldwin).
Orangtua lebih dulu memberikan keteladanan. Rutinkan membaca buku  dalam dua hari sekali atau sehari sekali. Lakukan itu di tempat mudah terlihat seperti di ruang tamu, ruang keluarga, di kamar, atau perpustakaan keluarga.
Jika anak sering melihat orang tuanya membaca buku, secara perlahan akan terbentuk meniru dan terbentuk paradigma anak bahwa membaca itu penting.

Selain itu, perpustakaan juga punya andil besar dalam menumbuhkan budaya literasi. Perpustakaan merupakan sumber pengetahuan. Agar perpustakaan dalam berfungsi seperti yang seharusnya, perpustakaan pun harus punya strategi. Perpustakaan harus terus berinovasi.

Misalnya, setting perpustakaan dibuat tampilannya indah, pencahayaannya cukup, pelayanannya ramah, dan sistemnya memudahkan pengunjung.

Perpustakaan yang nyaman akan membuat pengunjung betah berjam-jam di perpustakaan. Perpustakaan bukan hanya untuk membaca buku tetapi juga untuk acara lainnya seperti diskusi, bedah buku, lomba-lomba, maupun sekadar berkumpul saja.

Pernah saya membuat survey kecil-kecilan. Melibatkan siswa kelas X dan XI SMA. Survey ini tentang interaksi mereka dengan perpustakaan. Baik perpustakaan sekolah maupun perpustakaan daerah.

1). Dalam sebulan, berapa kali mengunjungi perpustakaan sekolah? Sebanyak 66,7 persen menjawab kurang dari 5 kali, lebih dari 10 kali 16,7 persen, antara 5-10 kali juga 16,7 persen.

2). Pernahkah mengunjungi perpustakaan daerah di tempatmu? Sebanyak 50 persen menjawab pernah, 33,3 persen tidak pernah, dan 16,7 persen sering.

3). Faktor yang membuat tertarik mengunjungi perpustakaan? Sebanyak 83,3 persen karena fasilitasnya, dan 16,7 persen acara-acaranya, serta nol persen karena buku-bukunya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Joanna Sikora dalam Scholarly Culture: How Books in Adolescence Enhance Adult Literacy, Numeracy and Technology Skills in 31 Societies dan dipublikasikan dalam Social Science Research, mengatakan bahwa: ”Remaja yang terbiasa melihat, dan membaca buku di rumahnya sejak kecil akan memiliki jiwa kompetensi kognitif jangka panjang yang mencakup kemampuan membaca, berhitung, dan teknologi informasi komunikasi. Kita optimis budaya literasi bangsa akan meningkat yang pada akhirnya membuat bangsa ini semakin maju. Aamiin.

Tulisan ini diikutkan pada lomba blog dalam ajang Acara USK LIBRARY FIESTA (ULF) 2022 dengan tema “Pandangan gen z terhadap perpustakaan menuju literasi informasi yang lebih baik.”

Referensi:

https://library.unsyiah.ac.id/

http://uilis.unsyiah.ac.id/

 

Tentang Penulis:

Supadilah. Guru di SMA Terpadu Al Qudwah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Menyukai dunia literasi. Suka membaca buku berbagai genre. Aktif menulis di beberapa media online dan cetak di Banten, Sumatera Barat, Madura, dan Jakarta.

Buku perdana berjudul Menjadi Guru Untuk Indonesia. Pernah meraih Juara 2 lomba artikel jurnalistik kategori guru yang diadakah oleh kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 2018.